
Panggilan kentalnya Bacco, sebenarnya nama aslinya adalah Drs A.Tajuddin,M.Si ia kelahiran Hayup Haruai , 13 Agustus 1958. Banyak hal yang telah ditulisnya mulai dari artikel politik, sosial, karangan ilmiah bahkan sudah empat judul buku ia buat dan diantaranya karya terakhirnya adalah Buku Antologi puisi Silir Pulau Dewata selain yang terdahulu Jembatan, Nawu Raha dan yang terbit sekarang ini bersama para penyair pahuluan berjudul Ronce Bunga-Bunga Mekar. Selain itu ia sekarang menjabat sebagai Kabid Telematika Dinas Perhubungan Kabupaten Tabalong, jga sebagai Pemred Majalah Media Bersinar yang terbitnya sudah 21 Nomor sejak tahun 2002, dengan tiras sejumlah 8000 eksemplar pertahuan, tercatat di LIPI Jakarta dengan ISSN 1693-1343 juga tercatat sebagai anggota PWI Kalsel.
Hobbynya, menulis puisi, cerpen, dan kini mempersiapkan novel fiksinya dalam bahasa Banjar berjudul : Kaminting Pidakan, yang dimuat Majalah Media bersinar secara bersambung.
Begitulah manusia yang tiada henti berkarya ini, memiliki motto “ sekali berarti sesudah itu mati”, yang menjadi salah satu bait sajaknya almarhum Khairil Anwar, telah memacu dirinya berpoduksi terus menerus, semuanya untuk mencapai sasaran dan target pekerjaan. Namun mutu tetap diutamakan.
SIBUTA
Berjalan dalam gelap
Gampang terantuk
Ketika malam tak siang
Ketika siang tak malam
Bergelut didirinya sendiri
Langit terus ada
Awanpun berarak
Menyanyi dan mengaji
Menjual suaranya
Siapa perduli ketika tongkatnya dimakan rayap
Pergi sendiri kealam baka
Sungguh Tuhan menjadikannya
Tidak sia-sia
Pasti punya makna
Tanjung, 7 januari 2005
PENGADUAN
yang sempit
Hujan yang deras
Air menguras kehidupan
Mengalir air, air mata
Karena korban yang terjadi terenggut tiada arti
Kesadaran yang belum pupus
Bencana kembali dari situ kesitu lagi
Telah kehilangan hati nurani
Orang kaya menangguk dari kemiskinan
Alangkah tidak adilnya ini
Nestapa datang dari mereka yang berkecukupan
Hidup si Kaya di atas penderitaan orang yang
Kepada siapa aku mengadu
Ketika jejeran jenazah terkubur
Kubangan lumpur dan kepongahan perilaku
Lagu duka setiap tahun meronta
Kembali dalam wajah kesedihan dan penderitaan
Lagunya sendu dan sedu sedan
Karena lampu iman hampir padam
Jangan sirnakan cahayaMu Rabbku
Biarpun tulus kami terima pelajaran cintaMU
Nafas manusia tetap ada
Mendengar dan meresapi isi setiap tikaman titahMU
Hendaknya merubah zalim dunia
Kepada kehendak perintahMU
Diam dalam seribu basa
Kami hanya dapat menanti
Apa gerangan akan terjadi lagi
Tanjung, 9 Januari 2005